[BOOK]99 Cahaya di Langit Eropa: Cahaya Itu (Tak) Pernah Mati…

aSSALAMU’ALAIKUUUM~~ Rasanya dah lama sekali nggak salam disini. Hahaha… Beberapa hari lalu, tepatnya 8 Desember, Me akhirnya menamatkan sebuah buku fenomenal tahun ini *lebay dikit boleh lah yaaa*. Tapi kayaknya gak lebay lah me sebut begitu karena buku ini sampe Oktober 2013 dah dicetak 13 kali, padahal cetakan kesebelas-nya bulan Februari 2013. Jadi dalam 1 tahun ini buku ini sudah tiga kali dicetak. Gimana gak jadi best seller ini buku? b^.^d *thumbs up*

Judul: 99 Cahaya di Langit Eropa

Penulis: Hanum Salsabiela Rais, Rangga Almahendra

Penerbit: PT. Gramedia Pustaka Utama

Tebal buku: 412 hlm

pERTAMA-TAMA…me ingin mengucapkan terimakasih kepada seseorang yang telah berjasa dan berbaik hati menghadiahkan buku ini sebagai kado ulang tahun. Meskipun kadonya telat 1 bulan untuk diberikan, tapi ternyata gak salah banget ngasih me buku ini. Karena me suka bangeeet! Terima kasih, calon-suami! Agak lucu sih kalo dilihat tanggal riwayat buku ini. Buku ini adalah kado ulang tahun me yang diperingati setiap tanggal 10 September, tapi buku ini diberikan pada me tanggal 09 November dan me baru menamatkannya tanggal 08 Desember. 10-09-08. Agak gak penting sih ya, tapi gak tau kenapa me suka aja kalo nemu hal-hal yang kayak begini, walopun tidak berarti apa-apa *abaikan*.

jUJUR…awal melihat buku ini dan membaca judulnya, me langsung mikir, “Hwenk, buku agama? Hwedheew.. ada apa niy me dikasih buku agama?” Karena sub judulnya: Perjalanan Menapak Jejak Islam di Eropa. Jujur, 1st impression: tidak tertarik. Belakangan ini me tidak tertarik membaca novel Indonesia. Entah kenapa. Setiap ke toko buku, me lebih tertarik buku-buku pengembangan diri, buku yang ada hikmah ato pesan yang menyenangkan tentang hidup, bukan novel-novel cinta yang cuma menjual imajinasi dan khayalan tentang cinta. Mungkin memang bawaan umur, sudah males baca hal-hal yang gak mungkin terjadi, pengen lebih realistis dalam hidup. Walaupun gak semua buku penulis Indonesia begitu, tapi entah kenapa buku-buku itu tidak menarik bagi me waktu di toko buku. Jadi, waktu dikasih buku ini sebenarnya me gak yakin bakal bisa selesai membacanya setelah halaman pertama *maap ya, calon-suami*.

tAPIIII….ternyata, “Don’t judge a book from its cover” itu benar adanya. Jangan lihat sampul depannya, tapi coba baca dulu sampul belakangnya. Kutipan tulisan Mbak Hanum *anggap saja me kenal sang penulis setelah baca buku ini* di sampul belakang buku ini berhasil membuat me tertarik. Ada lafal kalimat tauhid “Laa Ilaaha Illallah” di hijab Bunda Maria? Gimana gak tertarik buat pengen tau lebih lanjut? Jadilah me suka baca buku ini. 

kENAPA lAMA bANGET…bacanya? Kalau dihitung dari tanggal me dikasih novel ini sampai me selesai baca, berarti hampir sebulan me baca buku ini. Alasannya bukan karena buku ini tidak menarik. Setiap halaman dan setiap bab selalu ada yang menarik dan menambah wawasan dan pengetahuan. Justru karena itulah me lama membaca buku ini. Karena informasi yang diberikan buku ini sangat banyak dan menarik di setiap halamannya, me merasa berat waktu baca karena otak me yang pas-pasan ini. Hahahaha…

mEMBACA bUKU iNIY…asyik banget. Bukan karena tempat-tempat yang diceritakan, tapi cerita dibalik tempat-tempat itu yang bikin takjub. Buku ini cocok banget dibaca bukan hanya orang Muslim. Me pikir buku ini meski latar belakangnya tentang Islam, tapi boleh banget dibaca sama orang non-muslim (yang tertarik). Karena bisa membuka wawasan tentang agama yang dicap teroris ini. Buku ini bisa menunjukkan bahwa Islam justru mengajarkan kedamaian di setiap negara yang mayoritas non-muslim. Kehadiran Islam justru jadi penyejuk di setiap negara itu. Buat me sebagai seorang muslim, buku ini makin membuat me cinta sama keyakinan me ini. Buku ini juga menyadarkan me kalau pengetahuan me tentang Islam dangkal sekali. Banyak sejarah2 Islam yang kalau kita tahu ceritanya justru akan makin meningkatkan kecintaan kita akan Islam. Bahkan keruntuhan pemerintahan Islam di beberapa negara di Eropa juga bisa memantapkan iman kita kalau kita tahu cerita dibalik itu semua. Duh, ingatan tentang pelajaran sejarah Islam zaman SD-SMP dulu sepertinya sudah tenggelam jauuh sekali dalam lipatan otak me entah dibagian mana. Seandainya me masih ingat semua itu, mungkin membaca buku ini akan lebih menyenangkan.

yANG bIKIN mE sUKA bUKU iNIY…

  • Tempat-tempat yang dipilih untuk diceritakan itu pas banget. Me yakin selama beberapa tahun di Eropa, Mbak Hanum *lagi-lagi sok akrab* gak cuma berkunjung ke tempat2 yang dituliskan di buku ini, meskipun tempat2 itu jadi tujuan destinasi utama. Kisah yang dihadirkan dan pesan yang tersimpan di balik kisah itu bisa banget menginspirasi dan membuat kagum. 
  • Buku ini dikomentari oleh orang2 besar. Dan yang paling me “W.O.W”in dari buku ini, Pak Habibie juga ikutan komen. Me suka banget sama Bapak yang satu ini sejak baca buku Habibie-Ainun. Dan memang adanya nama mantan presiden RI yang satu ini di sampul buku menjadi salah satu alasan buku ini dibeli *according to calon suami*

qUOTES… yang me dapat dari buku ini gak banyak. Tapi ada dua hal yang selalu me ingat tentang buku ini

…menjadi agen muslim yang baik…

(Hanum & Rangga, 2012, 99 Cahaya di Langit Eropa, pg. 47)

Sebuah kalimat pengingat untuk selalu menghadirkan nilai Islam yang penuh kedamaian dan keindahan dalam setiap tingkah laku kita. 

Ilmu pengetahuan itu pahit awalnya, tetapi manis melebihi madu pada akhirnya. 

(Hanum & Rangga, 2012, 99 Cahaya di Langit Eropa, pg. 155)

Sebuah pepatah dari Arab Kufic (seni kaligrafi Arab kuno) yang tertulis di sebuah piring yang tersimpan di Museum Louvre, Paris, Perancis. 

mAKIN eXCITED…saat membaca buku ini karena tahu buku ini difilmkan. Biasanya siih, kalo dah baca bukunya terus nonton film-nya jadi makin asyik karena apa yang dibayangkan saat membaca akhirnya tergambarkan sesuai apa yang diinginkan penulis. Meskipun gak semua buku yang difilmkan jadinya sama memuaskannya. Me baca review tentang film ini di koran Republika beberapa waktu lalu, disebutkan kalau film-nya bakal 120% (kalau gak salah sutradaranya menyebut segitu) mengadaptasi dari buku. Jadi akan sama bahkan lebih dari yang diceritakan di buku. We’ll see yaa.. Semoga iya. Meskipun reviewer-nya bilang kalo film ini datar, tapi me tahu fokus dari buku ini bukan kisah kehidupan penulisnya. Buku ini bukan novel biasa tapi novel perjalanan (travelling) jadi jangan mengharapkan alur cerita yang menegangkan atau membuat penasaran. Me tetep suka buku ini, karena walau fokus dari tulisan Mbak Hanum itu cerita dibalik tempat2 yang dia kunjungi, me suka gimana dia melalui setiap perjalanan itu, gimana dia ketemu orang2 baru yang malah akhirnya menjadi sahabat dan memberi banyak informasi yang lebih.

aFTER aLL.. me suka buku ini *dah berapa kali me sebutkan?*. Me kasih 4 bintang buat bukunya, yang berarti RECOMMENDED. Tinggal nonton filmnya. Gak sabar >.<.. Tapi karena penginnya nonton film ini bareng sama orang yang dah ngasih buku, jadi musti sabar dulu mau nontonnya. Nunggu ketemu. Hahahha.. Semoga film ini selaris bukunya, jadi jadwal tayangnya panjang dan Januari masih ada di bioskop. Amiiin.. Hhehehe..

Happy reading~!

_*LoveMe.oNk*_


About this entry