#3wordsstory#.Fly, Blow, Man

Fly, blow, man

Im flying without wing. Whoa, dont you think that was weird? How can i fly without wing? But, yeah, im flying…

Aku benar2 terbang—aku tekankan hal itu sekali lagi ^^. Dari tempat yang tinggi ini aku melihat semuanya dengan jelas. Aku suka sekali duduk di atas bangunan tinggi. Where the wind is blowing my hair softly. Aku bisa melihat seluruh dunia dari atas sini.

'I`m Flying'

“AAAAAARRRGGGGGHHHH!!!!” dan aku bisa berteriak sekeras2nya di sini. Tidak akan ada orang yang memarahiku. Ihihihig… aaah, betapa menyenangkannya duduk di gedung 77 ini.

Gedung dengan 77 lantai ini adalah favoriteku. Selain duduk di tepi atap, aku juga suka berjalan2. Walaupun aku tau aku tidak akan jatuh karena aku bisa terbang, tp aku suka berjalan sambil merentangkan tanganku. Jika angin sedang kencang, tubuhku seolah akan terbawa terbang dan sensasi itu menyenangkan sekali.

“Hey!”

Oh? Aku terkejut mendengar bentakan seorang laki2. Dia muncul dari balik atap tangga darurat. Dia berjalan mendekatiku. Aku berjalan mundur dan hampir saja terpeleset. Akhirnya aku melompat turun dan berdiri merapat pada dinding. Aku tidak pernah bertemu siapapun saat aku bermain disini selama ini.

“Kau ini berisik sekali, kau tau?” Dia semakin mendekat.

Aku mengernyit. Seingatku aku hanya berteriak sekali tadi. Biasanya aku berteriak sepuluh kali dengan nada yang berbeda hanya untuk tau pengaruh tiupan angin terhadap suara teriakanku.

“Aku tidak tahu kalau ada orang lain disini. Lagipula tempat ini tinggi sekali, apa yg sedang kau lakukan disini?” tanyaku. Sebenarnya aku tidak berniat menanyakan hal itu padanya. Karena aku tidak terlalu peduli, tapi aku penasaran.

“Apa pedulimu? Kau bukan orang pertama yang senang kemari,” katanya, jaraknya sekarang 2meter dariku.

“Maksudmu? Kau juga senang kemari?” tanyaku.

“Kau selalu mengganggu meditasiku, kau tau?”

Aku manyun. Siapa suruh meditasi di atap gedung yang terbuka begini tanpa terlihat. Aku kan tidak tahu kalau dia juga ada disini.

“Jangan suka menyalahkan orang lain. Aku juga tidak menyalahkanmu kalau kau begitu suka berteriak,” katanya.

Apa? Aku tidak mengatakan apa2 padanya. Tunggu, apa dia bisa membaca pikiranku? Apa? Apa2an iniy.

Dia memanjat dinding tepi gedung dan duduk disana.

“Hwah, sudah lama sekali aku tidak melihat pemandangan dari sini.”

Apa yang diinginkan laki2 ini. Tadi dia bersikap kasar, sekarang berusaha ramah. Apa dia mencoba berteman denganku?  Hah, coba saja. Aku bukan cewek gampangan.

“Kau,” tunjuknya padaku. “Jangan senang berprasangka. Aku juga tidak berniat berteman denganmu. Tapi aku bukan orang jahat.”

Hwaaaa,, apa dia benar2 bisa membaca pikiranku? Coba saja. Ayo cepat katakan kau bisa membaca pikiranku. Ayo!

“Tidak usah begitu penasaran. Aku juga tidak terlalu tertarik untuk bertanya bagaimana kau bisa naik kemari tanpa melewati tangga atau elevator.”

Baiklah, jadi dia benar2 bisa membaca pikiranku. Dia pikir itu hebat. Itu hebat? Hanya sedikit. Cih, jangan. Jangan sampai kau kagum dengan kemampuannya itu, Shy. Tidak tidak. Oooh,, dia pasti bisa mendengarnya. Aaah, aku tidak suka dengan orang dengan kemampuan ini.

“Cih,” dia tersenyum mengejek. Aku melihatnya dengan heran.

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa,” katanya. Dia mendekati tembok tepi gedung dan melihat ke bawah. “Hwaa, ternyata mengerikan juga melihat ke bawah seperti ini,” dia segera berbalik dengan wajah pucat.

Aku terkekeh melihat ekspresi wajahnya. Lucu sekali. Aku naik dan duduk di tepi gedung itu. Rasanya ini tidak semengerikan itu.

“Kau.. tidak takut?” tanyanya.

“Aku tidak mungkin terbang kalau aku takut. Ketinggian adalah temanku,” kataku bangga.

“Kalau begitu, aku tidak heran kalau kau tidak mempunyai teman,” bisiknya pada dirinya sendiri.

“Hey, apa katamu?”

Dia langsung salah tingkah. “Ah, tidak. Maksudku, bagaimana mungkin kau bisa membawa temanmu ke atas sini? Pantas kau selalu sendirian disini,” katanya.

Aku hanya tersenyum mendengar kata2nya. Hwaa, dia berkata seperti itu seolah kami sudah berteman lama. Dia kelihatan baik, tapi aku tidak boleh terlena oleh kata2nya. Siapa yang tahu dia ini siapa?

“Cih, kau pikir aku sedang menggodamu? Hwaa,” dia menghela napas.

Ups, aku lupa dia bisa membaca pikiranku. Aish, aku benar2 tidak suka orang yang bisa membaca pikiran. Apa mereka bisa tidak membaca pikiran orang lain? Ini benar2 pribadi.

“Bagaimana bisa aku tidak bisa, sedangkan aku bisa?” tanyanya pada dirinya sendiri. Dia mengernyit, memikirkan pertanyaannya sendiri. “Maksudmu, apakah aku bisa mengendalikan pikiranku untuk tidak membaca pikiranmu? Aku bisa… mungkin,” katanya.

…(may) be continued…

_*LoveMe.oNk*_

@swk64jgj


About this entry